Home > AlpenPreneur > Risnawati: Saya Siap Dibayar dengan Jagung, Ubi, atau Rambutan!
AlpenPreneur

Risnawati: Saya Siap Dibayar dengan Jagung, Ubi, atau Rambutan!

Sudah cukup lama sebenarnya penulis mengenal teteh ALPEN yang satu ini, tapi ternyata baru beberapa waktu yang lalu muncul kesempatan untuk mewawancarainya. Ketika diminta kesediaannya untuk diwawancara, ibu dokter yang juga alumni KBPT lulusan 1999 ini mengaku senang karena katanya beliau memiliki banyak hal yang bisa dibagi kepada kita.
Akhirnya ketika wawancara benar-benar dilakukan, penulis merasa memang hal yang dibagi olehnya akan sangat baik untuk memotivasi kita semua, inilah petikan wawancara dengan beliau

Teteh kok bisa kepikiran jadi dokter? Jarang lho ada anak STM yang jadi dokter
Sebenarnya menjadi dokter adalah cita-cita saya sejak SD. Banyak hal yang mendorong ke arah sana, selain karena ingin mengangkat ekonomi keluarga saya juga melihat bahwa dokter adalah salah satu profesi yang menjanjikan masa depan. Apalagi dengan menjadi dokter saya bisa membantu orang-orang di sekitar saya, keluarga, saudara, teman-teman. Termasuk saya ingin bisa mengurangi biaya pengobatan yang saat ini tergolong tinggi. Yah, setidaknya biaya periksa dan konsultasi bisa gratis lah.

Bagaimana ceritanya teteh bisa mendapat gelar dokter?
Waktu lulus STM saya sebenarnya hampir mengubur cita-cita saya karena keadaan ekonomi keluarga. Tapi pada suatu hari ada seorang teman yang memberikan saya sebuah kartu kecil berisi tulisan begini “Na, saya yakin kamu tidak akan madesu (masa depan suram)”. Memang kalimatnya hanya begitu, tapi ternyata itu menjadi salah satu motivasi saya untuk membuktikan pada dia bahwa penilaian dia tidak salah terhadap saya. Dari sana akhirnya saya meneruskan kuliah jurusan kedokteran di Universitas Sam Ratulangi, Manado dan bisa menjadi dokter hingga sekarang.

Wah, kalau begitu apa tidak merasa rugi sekolah di STM yang jelas tidak ada sangkut pautnya dengan ilmu-ilmu kedokteran?
Jelas tidak, sebab walaupun tidak secara langsung tapi ilmu yang didapat di STM juga bisa membantu kerja seorang dokter. Saya sendiri belum pernah melakukannya, tapi saya sering lihat kejadian seperti ini: ketika seorang dokter harus melakukan operasi pengeluaran gumpalan darah di otak maka dokter itu harus menggunakan bor, nah penggunaan bor kan kita latih  di STM, atau ketika harus mengamputasi maka seorang dokter harus menggunakan tang atau gergaji, itu kan peralatan yang dipakai di STM.

Kok kedengarannya ngeri ya teh?
Oh ya tidak, kan pasien sudah dibius, jadi tidak ada masalah. Lagipula tidak semua dokter pernah belajar memasang cover & carpet cabin, bahkan pemasangan lavatory & galley. Itu semua saya lakukan ketika PSG di GMF, dan itu adalah pengalaman yang hanya terjadi karena saya sekolah STM Penerbangan

Oh, lalu apa ada yang lain teh?
Ya, pokoknya banyak hal yang bisa diambil di STM yang lebih dari sekedar membicarakan skill teknik. Mungkin karena dulu saya juga aktif di ekstrakulikuler OSIS dan Paskibra, maka gabungan dari semua kegiatan itu membantu saya menjaga kedisiplinan, kemandirian, kesabaran, tanggung jawab, kerjasama tim, dan rasa empati. Itu semua adalah sikap yang diperlukan dalam dunia kedokteran, juga dunia profesional

Bisa kasih contoh-contoh singkatnya?
Misalnya, sikap disiplin. Sebagai dokter saya tidak boleh terlambat, baik itu dalam tugas, jadwal pemberian obat pasien, semua tindakan saya harus mengikuti prosedur yang sudah di tentukan karena bila tidak disiplin fatal akibatnya.
Lalu soal kemandirian, sebagai dokter seringkali saya bertugas sendirian di ICCU, ketika menangani pasien kritis saya harus mempunyai sikap, tahu apa yang harus saya lakukan dan tidak tergantung orang lain.
Kesabaran, tidak mudah menghadapi pasien di saat kondisi kita sendiri lelah atau sedang bad mood, pernah saya semalam suntuk mengusap-usap panggul pasien yang akan melahirkan, karena dia mengeluh sakit dan dia tidak mau saya di ganti dengan teman sejawat lain. Saya juga pernah dicaci maki pasien yang kesakitan ketika di jahit karena kecelakaan lalu lintas. Masih banyak sabar-sabar yang lain.
Soal tanggung jawab juga penting sekali. Saya tidak bisa meninggalkan pasien untuk tidur atau makan ketika jaga di UGD/ICCU, apalagi bila ada pasien yang harus di observasi. 1 menit saja saya lengah, kondisi pasien bisa saja berbeda.
Terakhir soal empati. Saya itu seringkali tidak tega meminta bayaran pada orang yang tidak mampu. Bahkan pada beberapa kesempatan, saya harus siap di bayar dengan jagung, ubi, atau rambutan. Itu terjadi jika saya bertugas di daerah terpencil.

Tampaknya beban jadi dokter itu berat ya teh?

Tidak juga. Tapi memang sebagai dokter, tidak semua tindakan yang kami lakukan tepat, bisa karena kesalahan pasien yang kurang jelas memaparkan masalahnya, akibatnya dokter melakukan diagnosa kurang tepat.
Kadang kesalahan alat-alat pendukung, atau kesalahan diagnosa di laboratorium bisa menyebabkan dokter memberikan terapi yang kurang tepat yang akhirnya membuat pengobatan pasien jadi tidak maksimal. Semua itu harus kami pertanggung jawabkan di instansi, masyarakat, dan hukum.
Intinya, sebenarnya banyak faktor yang menyebabkan terjadinya kesalahan pada saat pengobatan, bukan semata-mata soal dokternya. Andaikan masyarakat tahu, kami sendiri sebagai dokter punya beban moral yang harus kami pikul berminggu-minggu, berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun ketika melakukan satu kesalahan yang belum tentu semua karena kesalahan kami.

Tapi teteh ternyata bisa bertahan, apa sisi menyenangkan dari menjadi dokter?
Sebenarnya banyak yang menyenangkan, tapi sampai sekarang saya masih merasa sangat senang ketika melihat ibu dan bayi yg kita bantu saat persalinan bisa selamat, saya juga sangat suka melihat senyuman keluarga ketika seorang pasien di ijinkan pulang. Bahkan kadang saya mendapatkan ucapan terima kasih dan pelukan ketika pasien yang saya rawat sudah sembuh. Lalu pasien balik lagi karena merasa cocok dengan pengobatan yang saya berikan
Itu semua hal-hal kecil, tapi sangat mengena di hati seorang dokter

Apa beban terberat seorang dokter?
Maraknya kasus mall praktek menjadi pelajaran berharga bukan cuma untuk masyarakat tapi juga untuk saya sendiri. Karena itu untuk mengantisipasinya saya terus belajar, bertanya, dan menimba pengalaman. Bahkan saya tidak segan-segan meminta nomor telepon pasien untuk mengetahui keberhasilan dari pengobatan yang saya berikan.
Jadi intinya, seorang dokter harus terus belajar dan belajar, karena ilmu kedokteran terus berkembang. Itu harus dilakukan jika kita tidak mau ketinggalan ilmu dan efeknya bisa melakukan kesalahan dalam bekerja.

Apakah ada cita-cita dalam ruang lingkup kedokteran yang belum tercapai?
Ada, saya sangat ingin mengambil salah satu bidang spesialisasi, dan nantinya ingin membuka klinik sendiri.

Kalau cita-cita di luar profesi ini?
Saya ingin membuka tempat penitipan anak atau mungkin TK yang bukan cuma sekedar penitipan anak, tapi juga tempat kita memberikan pendidikan dan ilmu pola pengasuhan yg tepat baik untuk si anak atau untuk orangtuanya

Wah, kok bisa kepikiran begitu teh?
Iya, hal itu didasari kekhawatiran saya setiap kali mengadapi pasien di klinik. Jadi kadang ayah dan ibu harus meninggalkan anak dan menitipkannya pada pembantu atau babysitter.
Nah, seringkali para pengasuh itu kurang mperhatikan kebersihan, kebiasaan, makanan dan perkembangan sifat-sifat negatif yang berkembang pada anak. Misalnya, mereka sering tidak bilang ketika anak jatuh karena mereka takut dimarahi orang tua si anak, sehingga kadang ada hal-hal fatal yang terjadi.
Mereka juga kadang tidak langsung bilang ketika anak sakit, kadang ada juga yang membiarkan anak jajan semaunya. Ini membuat perkembangan tidak baik untuk si anak dalam soal pertumbuhan dan gizinya.
Nantinya saya berharap tempat peinitipan anak atau TK yang dilengkapi sarana edukasi untuk orang tua, anak, dan babysitter nya bisa mengurangi masalah ini.

Teteh punya tokoh yang dikagumi atau menjadi inspirasi?
Semua orang yang saya temui selama ini menjadi sumber inspirasi dan saya mengagumi mereka, sekecil apapun mereka. Misalnya. seorang anak yang tetap tersenyum meskipun harus rela kehilangan kakinya.Seorang istri yang tertular AIDS dari suaminya tapi masih mau merawat suaminya.Seorang kakek yang sabar menyuapi dan membersihkan tubuh istrinya, dan tiap pagi meberikan ciuman di bibir untuk istrinya yang sudah 1 tahun lebih menderita stroke di rumah sakit.
Mereka orang-orang hebat dengan kesabaran dan keikhlasan yang begitu luar biasa, yang mungkin saya belum tentu mampu kalau ada di posisi mereka.

Apa pesan untuk para alumni yang membaca tulisan ini?
Pesan untuk teman-teman, seringkali kita tidak bersyukur atas apa yang kita miliki saat ini, tidak menjaganya dengan baik, kita baru merasa sesuatu berharga ketika kita kehilangan. Misalnya kehilangan anggota tubuh, kehilangan sehat, kehilangan mental, bahkan kehilangan teman. Jangan sampai kita menjadi orang yang terlambat menyadari siatuasi seperti itu.

Terakhir teh, mungkin teteh punya masukan untuk perbaikan sekolah kita ke depannya?
Sekolah mendidik murid untuk pintar, berakhlak baik, dan berhasil, tapi sekolah tidak bisa mnentukan jalan hidup muridnya. Jadi alangkah baiknya jika sekolah memberikan kesempatan murid-murid untuk menggali minatnya sendiri.
Contohnya dengan menyediakan buku-buku di perpustakaan yang tidak hanya berisi buku pelajaran teknik, tapi juga buku-buku motivasi, dan buku-buku menarik lainnya.
Lalu ada baknya jika sekolah lebih sering mengadakan kegiatan-kegiatan inovatif. Misalnya acara donor darah, yang tentu sangat banyak manfaatnya.

asasasas

asasasas

Nama Lengkap: dr. Risnawati Eka Agustini

TTL: Medan, 03 Agustus 1980

Tempat Tinggal: Perum Citra raya,Cikupa Tangerang

Angkatan: 1999

Jurusan: KBPT (Konstruksi Badan Pesawat Terbang)

Status: menikah

Nama pasangan: Sriadi, S.Hut

Nama Anak: Almira Maheswari Swardhana

3 thoughts on “Risnawati: Saya Siap Dibayar dengan Jagung, Ubi, atau Rambutan!

  1. Iyus KDj

    tertarik dengan pernyataan yg terakhir…. “sekolah tak bisa menentukan jalan hidupnya”… Beberapa guru sdh ada yang “terbuka wawasannya” bahwa setiap alumni yg baru keluar atau anak didik di sekolah akan bekerja di Bidang yg bukan Penerbangan. Tetapi masih ada bbrpa guru yg sebaliknya berkeinginan seperti itu… (menurut survey hasil perbincangan dgn guru di sekolah)….

    tertarik juga dgn pernyataan “kita baru merasa sesuatu berharga ketika kita kehilangan” .. memang benar .. salah satunya ..—> SEHAT itu mahal Friend… (sedang dialami sekarang ini oleh saya pribadi)…. Mencegah lebih baik daripada mengobati…

    Inilah bukti nyata bahwa lulusan /alumni STM Penerbangan mampu berada di segala Sektor … termasuk bidang kesehatan yaitu Dokter… Bravo Teh Risnawati…!!!!!

  2. wah ga nyangka lulusan STM bisa jadi dokter…salut!!!

  3. windu

    Temen yg kasih note kecil siapa namanya?
    Hahaha…….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *